Merawat Keberagaman Melalui Salam Waktu - Beritaklungkung.com

Opini

Merawat Keberagaman Melalui Salam Waktu

Rabu, 04 Agustus 2021 | 11:20 WITA
Merawat Keberagaman Melalui Salam Waktu

beritabali/ist/

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritaklungkung.com, .
Klaim mayoritas masih menjadi momok dalam upaya merawat keberagaman di tanah air. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika seakan-akan masih sebatas konsep teori yang sangat sulit terimplementasi. 
Terbukti dengan munculnya kasus larangan untuk menyampaikan salam dan selamat hari besar keagamaan dari umat tertentu kepada umat beragama lain. Dominasi salam salah satu agama juga seakan menempatkan ikrar Bhinneka Tunggal Ika menjadi barang usang. 
Penggunaan salam keagamaan mestinya dievaluasi agar sesuai dengan konteks, tempat dan situasi. Menggunakan salam agama saat ini seakan-akan menunjukkan penggunaannya merupakan umat yang sangat bersih dan suci. Mestinya semakin beragama maka umat tersebut akan semakin manusiawi dan mampu menggunakan salam sesuai dengan konteksnya. 
Sudah saatnya penggunaan salam keagamaan hanya digunakan dalam kegiatan keagamaan semata. Tentu akan sangat sulit mewujudkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, jika hanya mengedepankan mayoritas kelompok dan agama. Tokoh agama, politik, tokoh masyarakat dan para pemegang kebijakan mestinya menjadi contoh dalam penggunaan salam. 
Fenomena yang terjadi selama ini dan menjadi suatu kebiasaan serta seakan menjadi suatu yang benar adalah penyebutan salam semua agama dalam kegiatan di luar acara keagamaan. Penyampaian salam yang tak jarang salah dan belepotan sering menjadi bahan tertawaan dan menimbulkan ketersinggungan. 
Kebiasaan tersebut bukanlah hal yang buruk, namun alangkah baiknya menempatkan sesuatu sesuai dengan proporsinya. Dalam posisi ini bukan bermaksud mengesampingkan salam keagamaan, tetapi sebagai upaya mengimplementasikan Bhinneka Tunggal Ika.
Penggunaan salam semua agama dalam suatu acara selama ini memang mencerminkan bahwa Indonesia beragam, tapi ingat ada saudara kita yang menganut aliran kepercayaan yang tidak tersampaikan salamnya. Bayangkan jika mereka kemudian menuntut agar salam mereka juga digunakan, karena aliran kepercayaan juga diakui di Indonesia. 
Apabila hal tersebut terjadi tentu perlu waktu yang lebih hanya untuk menyampaikan salam. Salam keagamaan memang mengandung doa atau harapan, baik bagi yang mendengar maupun yang mengucapkan. Tantangannya adalah mengucapkan sesuai dengan konteks acara sehingga proporsional. 
Saatnya kita mengembalikan konteks penggunaan salam sesuai dengan tempat dan proporsinya yang layak. Menggunakan salam agama saat pertemuan agama dan menggunakan salam komunitas atau daerah saat pertemuan komunitas dan daerah. Langkah ini tentu akan memperlihatkan kesatuan dalam keberagaman suku, agama, etnis dan budaya. Apalagi selama ini keberagaman suku, agama, etnis dan budaya menjadi ciri khas bangsa Indonesia. 
Mengembalikan salam sesuai waktu yaitu Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore dan Selamat Malam menjadi penting. Penggunaan salam sesuai waktu ini akan menempatkan berbagai keberagaman yang ada, baik suku, agama, etnis dan budaya dalam posisi yang setara. 
Salam sesuai waktu ini tentu lebih sederhana dan lebih mudah diucapkan oleh siapapun. Melalui penggunaan salam sesuai waktu diharapkan tidak ada lagi diskriminasi atau larangan penyampain salam suatu agama dan konflik dapat diminimalkan, bahkan ditiadakan.
Urusan salam memang urusan yang receh, namun urusan receh seperti ini berpotensi menjadi konflik dalam negara yang beragam seperti Indonesia. Penggunaan salam sesuai waktu pada dasarnya bukan semata-mata masalah kesetaraan, tetapi juga membangun rasa kebersamaan dan persatuan sebagai warga Indonesia. Langkah kecil seperti ini tentu akan sangat bermanfaat dalam mengubur sekat mayoritas dan minoritas yang cukup tajam. 
Oleh :
I Nengah Muliarta
Dewan Redaksi Beritabali.com

Penulis : Kontributor Klungkung

Editor : SEO


TAGS : Semboyan Bhinneka Tunggal Ika Salam Keagamaan Keberagaman


Beritakarangasem.com - Media Online Karangasem Bali Terkini

Menyajikan Berita Politik, Seksologi, Hukum, Kriminal, Wisata, Budaya, Tokoh, Ekonomi, Bisnis, Pendidikan di Karangasem, Bali, Nasional dan Dunia.



Opini Lainnya :


Berita Lainnya